Kursi Penumpang

Sukses terus buat sahabat yang sedang duduk di kursi penumpang, sekian ribu feet di atas lautan Hindia sana. Sampai jumpa lagi sahabat, tentu dengan cerita-cerita seru kita nanti..😀😀😀

My Third Life

Kursi penumpang dapat memberikan definisi yang berbeda. Kereta, bis, pesawat, apapun. Duduk di atasnya dapat membangkitkan ingatan tentang rumah. Padanya orang-orang menitipkan janji, bisa jadi air mata. Dirinya menyimpan kenangan. Dari mereka yang pulang untuk bertemu keluarga, atau, dan tentu saja, mereka yang pergi merantau merangkai mimpi. Setiap penumpang menitipkan kisahnya masing-masing. Baiklah, mungkin tidak semua, setidaknya saya.

Lima tahun lalu, saya pergi merantau ke Bandung. Tiga bulan lalu, saya pulang ke rumah sebagai seorang sarjana. Tanyakan pada dua kursi, entah di gerbong mana, di kereta Harina. Dua kursi itu pasti masih menyimpan kisah milik saya. Kursi pertama membawa mimpi, kursi kedua berisikan jawaban. Keduanya menyimpan nada bahagia, dan bisa jadi air mata di dalamnya.

Lalu saya membayangkan seorang kawan, yang akan bertemu dengan kursi penumpang miliknya beberapa jam ke depan. Dia akan terbang bersamanya, sekian ratus menit, melintasi zona waktu. Saya tidak tahu yang mana kursi penumpangnya, namun…

View original post 304 more words

Review Buku: “W.S Rendra – doa untuk anak cucu”

Bandung sore ini sukses basah kuyup lagi. Setelah berhari-hari udara panas melanda, sore ini sangat asyik kalau kita meringkuk di atas kasur, tarik selimut sebatas leher, katupkan kelopak mata. Tapi tidak. Sore ini terlalu sayang dilewatkan hanya dengan tidur atau sekedar bermalasan di depan tivi. Mari ngeblog lagi!

Siang tadi, kala mentari masih gagah berani menyilaukan umat manusia, saya bermotor menuju Togamas Bandung untuk berburu satu buku. Bukan buku biasa. Bukan novel atau ulasan sejarah. Kali ini saya membeli buku kumpulan puisi. Kalau boleh jujur, bukan karna saya sedang sindrom-tiba-tiba-penikmat-puisi. Bukan. Tapi lebih karena pengarangnya. W.S Rendra! Penyair favorit saya sejak zaman saya berseragam putih biru, hingga sekarang.

Awalnya saya menyukai W.S Rendra karena satu hal yang sepele: tanggal lahirnya sama! 7 November. Saya tahu fakta ini dari “Buku Pintar Dunia” yang saya beli sewaktu kelas dua SMP. Semenjak itu. Saya tiba-tiba entah kenapa, jadi suka baca puisinya. Entahlah apa sebabnya. Mungkin ada semacam hubungan-kecocokan-antar-manusia-7november? Khayal!

Sampai sore ini, ketika buku berjudul “doa untuk anak cucu” tergelatak di meja belajar saya, menemani sore mendung ini, saya masih terkagum-kagum akan otaknya yang pandai menghasilkan syair yang tajam, bahkan terkadang syahdu.

doa untuk anak cucu, W.S Rendra

Rendra yang terlahir 78 tahun silam, hidupnya seolah hanya untuk sastra. Sejak remaja, buku kumpulan puisinya sudah terbit: “Balada orang-orang tercinta, tahun 1957”. Kemampuan mendeklamasikan puisi? Jangan tanya. Rendra muda berhasil menjuarai lomba baca puisi tingkat nasional mewakili UGM. Hingga bukunya yang terakhir, “Perjalanan Bu Aminah, 1997”, Rendra berhasil menelurkan ratusan karya, menggoncang berbagai panggung, dan menggetarkan batin ribuan orang yang menyaksikan, atau membaca puisi-puisinya.

Buku “doa untuk anak cucu” ini mungkin terbit bukan atas perintah Rendra sendiri.  Buku ini terbit karena begitu banyak puisinya yang belum terbukukan dan terlalu sayang kalau menjadi sekedar “artefak zaman”. Atas izin istri Rendra, Ken Zuraida, buku ini berhasil disusun dan menyajikan puisi-puisi Rendra yang selama ini sama sekali belum pernah terbit. Sekali lagi kita akan diantarkan kepada sebuah zaman di mana puisi bisa mengalir begitu lugas. Kita akan membaca sebuah pemikiran yang dibaut dalam kata-kata penyair alami. Lahir dengan bakat ini. Puisi-puisi Rendra bisa sangat lugas, atau terseok syahdu.

Semua manusia sama tidak tahu dan sama rindu

Agama adalah kemah para pengembara

Menggema beragam doa dan puja

Arti yang sama dalam bahasa-bahasa berbeda

Indah bukan?

Itu baru secuplik dari puisi-puisi Rendra dalam buku ini. Meninggal tahun 2009 lalu, Rendra meninggalkan karya-karyanya yang akan selalu pantas untuk diselami.

Buku ini bukanlah novel yang bisa kita resensikan menarik tidak jalan ceritanya. Bukan cerpen yang bisa dinilai seru tidak konfliknya. Saya sadar penikmat puisi macam ini mungkin sangat terbatas.

Saya hanya sekedar berbagi bahwa di tengah banjir novel remaja yang berkisah cinta dan romansa, masih ada sastra “aliran” lain yang meniupkan sepoi angin kesejukan. Karena membaca puisi, kita tidak dituntut merampungkan beratus halaman plot konflik. Cukup beberapa bait yang, bisa kita segera ambil intisarinya. Kata-kata dalam puisi Rendra seakan berbicara!🙂

Menengok Mereka, yang Melihat dengan Hati

Siang di minggu ketiga bulan April ini begitu terik. Entah ini perasaan saya saja atau bukan, yang pasti mudah sekali saya merasa haus. Matahari sebetulnya masih ramah saja. Dengan setia menyoroti tingkah polah manusia di bawahnya. Hanya memang, kali ini pasukan awan sedang berlibur entah ke mana. Mereka enggan memayungi manusia-manusia berpeluh, kepanasan, kehausan seperti saya. Motor astrea grand keluaran 1995 yang saya naiki menggerung keras. Bak suara motor balap yang lama tak diservis. Seolah semakin menyoraki saya yang gelisah mencari warung terdekat. Tujuan saya kala itu cuma satu, membeli sebotol teh manis dingin, merek apapun. Ya, nampaknya niat saya untuk segera menuju ke panti harus terhambat oleh rasa haus akut ini. Sekitar seratus meter di depan terlihat plang suatu convenience store. Motor balap gadungan ini pun saya gas pol. Bagai kuda yang melengus tersiksa, motor tua ini berhasil mengantar saya ke sebuah oase di tengah terik Bandung di minggu ketiga bulan April.

Usai menyelesaikan urusan dengan kerongkongan kering saya, perjalanan pun berlanjut. Matahari masih dengan “ramah”-nya menghangatkan kami semua. Dengan gagah, motor jagoan saya melaju di tengah pekik klakson mobil-mobil yang terjebak macet di Jalan Wastukencana. Inilah keuntungan naik motor langsing. Bisa was-wis-wus menyelinap di antara kemacetan yang menyebalkan. Saya pun melaju ke arah Jalan Pajajaran, tujuan saya sedari tadi.

Setelah sepuluh menit berjibaku dengan rentetan kepadatan lalu lintas Bandung, sampailah saya di depan Asrama Kenari. Tempat di mana dua tahun ini saya mengenal malaikat-malaikat kecil ini. Oh maaf, saya belum memperkenalkan mereka. Jadi mereka ini, yang saya maksud malaikat kecil ini, adalah adik-adik baru saya. Umurnya mungkin kisaran 8-13 tahun. Jadi rata-rata masih duduk di bangku SD. Sebagian besar dari mereka adalah penyandang tuna netra. Namun beberapa ada yang memiliki penglihatan rendah atau low vision. Jarak pandang mereka mungkin hanya beberapa centi meter saja.

Kunjungan ini adalah kali pertama setelah hampir dua bulan saya tidak ke sana. Alasannya? Tugas Akhir! Haha. Dua kata itu dengan sukses membuat saya agak “lupa” dengan dunia luar kampus. Namun kali ini, setelah semua kewajiban itu terlaksana, setelah ketok palu kelulusan sudah menderu, setelah mulai kangen lagi dengan mereka, saya berkunjung lagi ke sana.

Asrama Kenari merupakan satu dari banyak asrama di Komplek Panti Tunanetra Wyata Guna. Asrama-asrama di panti ini dibagi berdasarkan gender dan umur penghuninya. Jujur saya belum pernah menyambangi keseluruhan asrama. Hanya beberapa saja yang pernah saya kunjungi. Dan dari sekian asrama itu, saya paling dekat dan akrab dengan penghuni Asrama Kenari ini, yang dihuni oleh anak-anak. Entahlah, mungkin saya lebih senang saja melihat anak-anak ini tertawa-tawa girang ketika mendengar deru gas motor tua saya. Breeem, breeeeem! Dan mereka akan tertawa.

Kedatangan saya, seperti biasa disambut oleh Opik. Si anak cerdas yang berasal dari luar Bandung. Opik menyandang low vision, jadi dia masih dapat menyadari kedatangan saya. Opik dan Otong memberi salam, kemudian diikuti oleh anak-anak lain. Bari, atau Sobari, meloncat dari kasur dan memanggil nama saya. Ahh, senangnya merasakan kehangatan di sini.

Otong sedang membaca tulisan Braille

Otong sedang membaca tulisan Braille

Menit-menit berikutnya saya habiskan dengan mengobrol. Menanyakan kabar, sekolah, dan keluarga mereka di kampung halaman mereka. Atau ikut menemani Bari mengambil air panas di dapur umum. Kebetulan hari ini giliran Bari mendapat tugas piket untuk mengambil air panas, sebagai stok minum untuk asrama. Bari bercerita, dia pernah terkena air panas karena kurang berhati-hati dalam menuangkan air. Tentu saja, kita saja yang memiliki pengindraan lengkap terkadang mengalami kecelakaan kecil macam itu. Ah, kasihan saya melihatnya.

Sepanjang sore kami bermain tur panti dengan mengendarai motor tua saya. Opik duduk di depan, Bari dan Otong duduk di belakang saya. Kami berkeliling panti sembari sesekali tertawa oleh deru gas motor saya yang memang terdengar lucu. Jujur, di titik itu saya sempat terdiam sebentar. Merenungi ketulusan mereka. Opik, Bari, dan Otong, naik motor tua saya saja sudah senang bukan kepalang. Mungkin bagi mereka ini sudah semacam wahana roller coaster di Dufan. Padahal saya dulu semasa kanak-kanak sering merengek ingin ini itu. Merasa pantas untuk mendapat ini itu. Ahh, saya merasa beruntung bertemu dengan sosok-sosok kecil ini. Mereka mengajari saya untuk lebih bersyukur.

Langit semakin memerah. Semburat jingga muncul di Barat sana. Sayang anak-anak itu tidak bisa melihat warna apik itu dengan jelas. Bahkan mungkin bagi Otong, dia tak tahu bagaimana warna jingga sebenarnya. Saya memutuskan untuk berpamitan. Sudah waktunya mereka pulang ke asrama untuk mandi. Saya gas lagi motor saya, breeem, breeem. Mereka tertawa lagi. Motor saya melaju menjauhi Asrama Kenari, menuju gerbang depan panti.

Siang itu, mungkin salah satu siang terpanas yang pernah saya alami. Namun sore itu, sekaligus salah satu sore terhangat yang pernah saya alami. Di luar komplek panti, kehidupan berjalan dengan begitu cepat, riuh, dan gaduh. Namun di dalam panti, saya bisa menemukan semacam alat pereda kejenuhan, sekaligus pil peningkat rasa syukur. Melalui tulisan singkat ini, saya mencoba menyebarkan kabar bahwa di dalam panti sana, ada adik-adik yang tidak suka mendengar lagu-lagu Cowboy Junior, malah lebih suka mendengar saluran radio dangdut. Namun di balik keluguan mereka, di sela kekurangan mereka, mereka memiliki hati yang begitu bersih. Tanpa mereka sadari, mereka mampu membuat kita yang menemui mereka, merasa kecil. Membuat kita berpikir, keterlaluan sekali bila kita tidak mensyukuri apa yang kita dapat selama ini.

Pesan dari Mahameru

Balonku ada lima, rupa rupa warnanya. Hijau kuning kelabu, merah muda dan biru. Meletus balon hijau, DUARR! Hatiku sangat kacau. Balonku tinggal empat, kupegang erat-erat..

Di depanku, Rino masih berjoget-joget girang menyanyikan lagu “balonku”. Dia tak peduli dengan kerumunan orang yang menyesaki dapur ber-perapian itu.  Orang-orang mencari kehangatan di dalam ruangan sempit itu. Sudah dua jam ini Rino bermain denganku, permainan apapun. Dari main suit jepang, sampai main tebak-tebakan. Umur Rino memang masih 6 tahun, tapi menurutku dia tergolong cerdas. Apalagi untuk ukuran anak yang tumbuh dengan segala keterbatasan fasilitas pendidikan di Ranupani, sebuah desa di atas awan, di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Ketika kutanya apa cita-citanya kalau besar kelak, tanpa pikir panjang Rino menjawab, “Jadi Guru! Pengin bikin anak-anak jadi pinter!” Itulah Rino, anak yang baru kukenal 2 jam yang lalu, ketika kakiku mulai menginjak tanah subur ini. Tanah yang makmur oleh abu Mahameru.

2 Januari 2013. Baru siang tadi aku sampai di Kota Malang, setelah menempuh perjalanan semalam penuh dari Bandung, bersama seorang kawan sekosan, Romli. Lelahnya badan tak mampu menghapus semangat untuk segera menjejakkan kaki di kemegahan puncak tertinggi Jawa. Dari Tumpang (kota terakhir sebelum memasuki TNBTS), bersama sahabat menumpang sebuah truk yang memang menuju ke Ranupani. Dari sana, petualangan pun dimulai. Pemandangan menakjubkan menyertai perjalanan kami menuju Ranupani, gerbang pendakian Gunung Semeru. Aku duduk di depan, ngobrol ngalor ngidul dengan si Bapak. Sambil sesekali menoleh ke luar jendela, sengaja menantang angin dingin pegunungan kawasan Bromo. Bulu kudukku berdiri, kedinginan. Telinga seolah mendengar sang angin berkisah, sebuah pesan dari langit, “Jagalah alam ini, Nak…”

Ranupani sore itu begitu dingin. Membuat langkahku otomatis mengantarkanku ke dalam sebuah warung kecil di depan pos pendakian. Di warung inilah kemudian aku mengenal Rino, anak si Ibu penjual nasi rawon, salah satu rawon terenak yang pernah kumakan. Entahlah, mungkin hawa dingin mampu menyulap semua makanan menjadi nikmat. Aku terduduk di depan perapian, bersama para pendaki lain yang kedinginan. Bahkan sampai terdengar bunyi gemeletuk gigi seorang pendaki. Lebih dari dua jam aku berlindung di dalam hangatnya kepulan asap tungku kayu. Suasana makin hangat ketika disambi dengan obrolan ringan bersama pendaki lain, atau bermain tebak-tebakan dengan Rino. Rino tampak takjub ketika seorang pendaki memeragakan sulap “jempol patah”. Tapi kami juga berbalik takjub ketika Rino mahir bernyanyi sambil bergoyang ke sana ke mari. Ahh, suasana malam itu begitu hangat, oleh api yang menyembul dari tumpukan kayu, dan juga hangat oleh keceriaan yang dibagikan para pendaki. Tak terasa, malam makin larut. Aku harus sadar diri kalau besok pagi aku dan kawanku mulai mendaki. Segera aku berpamitan dengan yang lainnya. Malam itu, kami memupuk energi untuk perjalan esok hari. Perjalanan yang aku yakin akan menyita banyak memori dalam database petualanganku.

3 Januari 2013. Embun mulai terangkat dari permukaan danau Ranupani. Matahari terbit dari balik bukit sebelah timur, berlawanan arah dengan tempat kami menginap malam itu. Itu baru kecantikan mula yang diberikan oleh Semeru. Baru mula. Perjalanan kami masih jauh, dan kecantikan Semeru akan kami lihat lebih banyak lagi. Pasti.

Pukul tujuh tepat, setelah mengisi perut dengan nasi rawon, lagi, kami mulai pendakian. Kami berjalan ke arah barat, disapa oleh lahan-lahan pertanian milik penduduk Ranupani. Bukit-bukit hijau cantik menyemangati kami dari kejauhan. Lebih jauh lagi, mengintip di balik bukit-bukit cantik itu, kemegahan Mahameru berseru kepada kami agar bergegas, melangkahkan kaki.

Sekitar pukul sebelas siang, langkah kami tak sia-sia. Ada “kubangan air” maha indah di depan kami. Ranukumbolo. Sebuah ceruk air raksasa, yang setia menyapa para tamu Mahameru. Di tempat inilah kemudian kami bertemu sahabat-sahabat baru. Enam orang dari Makassar, dua orang dari Bandung, dan seorang Bekasi. Kelak kami menjadi sahabat seperjalanan dan melanjutkan perjalanan bersama-sama. Malam itu kami menginap di Ranukumbolo. Bintang tampak malu-malu. Awan seperti terbang rendah, membuat langit gelap gulita. Hanya siluet bulan saja yang sedikit tersirat. Angin dingin memaksa kami untuk segera memejamkan mata. Menghimpun lagi energi untuk perjalanan esok hari.

Ranukumbolo 2

Ranukumbolo

4 Januari 2013. Bersebelas kami meninggalkan eloknya Ranukumbolo. Tujuan kami selanjutnya adalah Kalimati. Kami akan berkemah di sana malam ini. Perjalanan ke Kalimati kami tempuh dalam waktu 1,5 jam. Lebih cepat dari perhitungan kami. Segera kami dirikan tenda masing-masing. Dini hari nanti, kami akan lakukan summit attack. Pendakian Mahameru yang sesungguhnya. Perjalanan kami dua hari ini konon hanyalah pengantar tidur saja. Belum ada apa-apanya.

5 Januari 2013 – pukul 01.10. Jaket tebal sudah aku pakai. Potongan koyo kecil sudah tertempel konyol di hidungku. Cukup ampuh untuk mengusir hawa dingin yang sedari tadi mengusik. Kalimati tampak makin mati kalau gelap begini. Angin terasa berhembus dari segala penjuru. Setelah berdoa sejenak, kami mulai perjalanan kami yang sesungguhnya.

Benar saja, perjalanan kali itu sungguh terasa sangat menantang. Aku ingin bilang kalau perjalanannya berat, tapi kupikir kata menantang lebih tepat. Kalimati – Arcopodo berupa jalan terjal yang sesekali mengharuskan kita memaksa lutut untuk bekerja ekstra. Vegetasi masih cukup rapat, namun kita seolah mulai “meninggalkan dataran”. Sesekali aku menoleh ke kanan ke arah lampu-lampu kota yang berpendar indah. Seolah bersorak riuh kepada kami.

Udara mulai terasa lebih dingin dibanding tadi. Beberapa landaian kami gunakan untuk beristirahat. Sembari membasahi tenggorokan, obrolan-obrolan ringan kami lakukan. Ini cara ampuh untuk mengurangi beban di betis dan lutut.

Satu jam kami tempuh dari Kalimati sampai Arcopodo. Selepas itu, semuanya mendadak makin menantang. Jalanan mulai “tidak ramah”, menanjak. Langkah kami mulai terseok oleh pasir. Setelah melewati cemoro tunggal, inilah yang banyak orang sebut dengan, “pendakian yang sesungguhnya”. Jalurnya bukan sekedar landai, tapi lumayan curam. Pasir pula. Otak mulai memerintahkan jantung untuk mengatur ritme, memompa darah lebih cepat. Pikiran sesekali menyapa kaki agar teratur melangkah. Ya, kelamaan istirahat, kedinginan yang didapat.

Pasir, pasir, dan pasir. Kalau sudah begitu, mental mulai tergoda. “Kapan ini nyampenya?”. Langkah kaki mulai tak konsisten lagi. Kepala sudah mulai malas menengok ke atas. Terkadang aku lebih memilih menengok ke samping, menikmati kerlip kota di bawah sana. Malam itu cerah. Bulan tampak tepat di atas kepala. Entah jam berapa sekarang, aku malas melihat jam. Biarlah tiba-tiba aku sampai di puncak. Haha.

Semburat oranye mulai terlihat dari arah kiri. Pertanda matahari hampir saja terbit. Aku mulai tergoda untuk melihat jam. Pukul 5 pagi. Argghh, aku mulai menggantungkan niat untuk melihat sunrise. Haha. Tapi semangat malah makin menyala. Kaki tetap harus melangkah.

Dan benar saja, temanku Romli sontak berteriak, “Mbah, datar!” Puncak men, puncak! Haha. Pukul 5.40 kami sampai di puncak. Belumlah terlambat untuk menikmati sunrise. Suasana drama mendadak terjadi di puncak sana. Orang-orang berpelukan. Sujud syukur disembahkan. Tanah tertinggi Pulau Jawa. Mimpi yang sempat tertunda, terwujud juga! Bahkan saya sempat berdiri persis di tepi kawah Jonggring Saloko. (oke, jangan ditiru ya).

Mahameru 3

Mahameru

Bersama teman-teman seperjuangan.

MAHAMERU
Yang mencintai udara jernih
Yang mencintai terbang burung-burung
Yang mencintai keleluasaan & kebebasan
Yang mencintai bumi

Mereka mendaki ke puncak gunung-gunung
Mereka tengadah & berkata, kesana-lah Soe Hok Gie & Idhan Lubis pergi
Kembali ke pangkuan bintang-bintang

Sementara bunga-bunga negeri ini tersebar sekali lagi
Sementara saputangan menahan tangis
Sementara Desember menabur gerimis

24 Desember 1969
Sanento Yuliman

Kami pun turun bersama menuju Kalimati untuk bermalam sekali lagi, sebelum kembali ke Ranupani. Terimakasih Semeru, untuk segalanya yang kau berikan. Untuk dinginnya udara Ranukumbolo. Untuk gesekan ilalang Oro-oro Ombo. Untuk rintik hujan di Kalimati. Untuk peluh yang menetes di tanjakan cinta. Terlebih untuk sahabat-sahabat baru yang dipertemukan oleh-Nya.

Ini bukanlah sekedar pendakian gunung biasa. Bukan sekedar pembuktian eksistensi diri, atau termakan “kisah pendakian yang sedang populer”. Tapi ini tentang perjalanan mewujudkan mimpi, pelarian dari zona nyaman, dan terlebih, tentang pesan dari langit yang terbawa oleh abu Mahameru, “Jagalah negeri ini, dengan segala kuat raga, serapat degup jantung, dan segegap langkah menuju puncak tertinggi Pulau Jawa”.

Mahameru 5

Hasil Jeprat-Jepret Amatiran

Lama saya tidak ngeblog, dan tiba-tiba pingin nampilin beberapa foto hasil jepretan selama ini. Tentu bukan dengan kamera sendiri. Hahahaha. Rada ga modal memang. Tapi yaaah, apa daya, duit belom cukup buat beli kamera. Hehe. Mau nyumbang? :p

1. Mahameru 3676 asl.

Sunrise di Mahameru. Orang-orang berbeut berpose dengan Sang Saka Merah Putih

Sunrise di Mahameru. Orang-orang berbeut berpose dengan Sang Saka Merah Putih

Asap yang menyembul dari Kawah Jonggring Saloko

Asap yang menyembul dari Kawah Jonggring Saloko

Berkibarlah Benderaku di Puncak Tertinggi Jawa

Berkibarlah Benderaku di Puncak Tertinggi Jawa

 

Dataran Tertinggi Jawa

Dataran Tertinggi Jawa

It's time to sand-surfing. Yeeha!

It’s time to sand-surfing. Yeeha!

 

2. Rinjani 3726 asl.

Gunung Barujari and Segara Anak

Gunung Barujari and Segara Anak

3. Gresik-Bawean (Pulau di Tengah Laut Jawa)

Ngaso dhisik

Ngaso dhisik

Pulau Bawean, kecantikan yang tersisihkan

Pulau Bawean, kecantikan yang tersisihkan

Pulau Gili, Kepulauan Bawean.

Pulau Gili, Kepulauan Bawean.

 

Pintu Tua: saksi bisu harmoni Gresik baheula

Pintu Tua: saksi bisu harmoni Gresik baheula

4. Kampung Baru (village above the sea), East Borneo

Sebuah desa di atas laut.

Sebuah desa di atas laut.

Segitu dulu deh. Kalo ada jepretan baru ditambahin (berdoa biar bisa beli kamera). :p Maaf fotonya biasa sekali, maklum masih belajar. hehehe.

kisah seorang perempuan

ibuk

Tulisan ini berkisah tentang seorang gadis  yang ada di foto di atas. Kita kembali ke periode 30 tahun lalu. Sosoknya akan selalu kukagumi seumur aku menghirup udara bumi ini. Sampai mati, namanya akan selalu kujunjung dalam sanubari.

Malam di penghujung bulan Sya’ban itu tampil seperti malam biasanya. Bulan terlalu sabit, tanda sebentar lagi akan hilang, tergantikan bulan baru.  Sebentar lagi Ramadhan. Ada gempita menyelimuti seluruh desa. Mushola-mushola dan langgar-langgar sesak akan anak-anak yang bersiap menyambut bulan suci. Jalanan tampak lebih bersih. Baru saja Minggu lalu warga dusun mengadakan kerja bakti. Buncah kebahagiaan terpancar dari mana-mana. Simbok-simbok jamu keliling bersiap menyambut libur satu bulan mereka. Semua bahagia. Kecuali di rumah itu. Rumah besar milik H.O.S Mitrowiryono, salah satu tokoh terpandang di sebuah wilayah di selatan Klaten, Jawa Tengah. Oh bukan berarti rumah itu tak gempita menyambut Ramadhan, tidak. Hanya saja di malam itu sedang terjadi obrolan yang memburamkan rona kebahagiaan seorang gadis. 

keluarga besar

Nama gadis itu cukup unik. Pak Mitro (sebutan H.O.S Mitrowiryono) beserta Bu Mitro dulu menamainya Tutwuri Handayani. Sesuai dengan kalimat yang setia tertulis di dinding-dinding halaman SD di seantero negeri. Harapan Bu Mitro waktu itu sederhana, kelak beliau ingin agar anak gadisnya itu menjadi perempuan yang berpendidikan tinggi. Anak gadis jebolan unversitas. Sesuatu yang belum dimiliki oleh desa  tempat mereka tinggal. Dalam kesehariannya, anak gadis itu dipanggil Tutik, atau Tutut. Yang penting depannya berbunyi “tut”. Impian Bu Mitro untuk memiliki seorang anak gadis lulusan pendidikan tinggi nyaris tercapai. Kini si anak gadis duduk di bangku kuliah. Tiap hari “ngelaju” Klaten-Surakarta demi menyelesaikan perkuliahan di Jurusan Akuntansi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Ya, sebagai salah satu tokoh aktivis Muhammadiyah, tak perlu pikir panjang bagi Pak Mitro untuk menguliahkan anak gadisnya di UMS.

Di malam yang bulannya terlampau sabit itu, Pak Mitro menanyai anak gadisnya, “Yakin kowe nduk? Ora lanjut sekolah meneh?”. Si anak gadis tertunduk sebentar, sembari memintir ujung rambut panjangnya. Matanya terpejam sesaat, kemudian spontan menjawab, “Mboten Pak.. Kulo rewang-rewang teng pasar mawon”. Jawaban si gadis terdengar lirih, namun  meyakinkan. Perihal perhentiannya dari kuliah ini sebenanya sudah dipikir masak-masak. Selain memang dirasa tidak cocok baginya, si gadis hanya ingin membantu orangtuanya berdagang di pasar.  Bisnis batik orangtuanya semakin besar. Sebagai saudagar batik di Pasar Klewer Solo, tak bisa dipungkiri kalau Pak Mitro dan Bu Mitro membutuhkan tenaga baru untuk membantu jalannya roda bisnis. Hal inilah yang membuat si gadis terus berpikir, apakah tidak lebih baik baginya untuk beralih membantu orangtuanya saja? Dan malam itu jawabannya meyakinkan. “Nggih Pak, kulo ngrewangi teng pasar mawon..” Pak Mitro sebenarnya terlihat menyayangkan hal itu, namun baginya tak ada yang lebih baik selain memercayainya keputusan anak gadisnya. Toh tak ada salahnya membantu di Pasar. Jadilah semenjak malam itu, si anak gadis menjadi asisten Bu Mitro dalam berdagang di Pasar Klewer, Solo.

Bangku kuliah sengaja ditinggalkan demi totalitas dalam berdagang. Dan keputusan itu kupikir tak sia-sia.

Di tempat itu pulalah, di Pasar Klewer, si anak gadis kemudian bertemu dengan seorang pemuda tanggung yang juga sedang menjajakan barang dagangannya. Dari perawakannya, tampak kalau dia bukan pemuda kota. Gerut di wajahnya menampilkan sisa-sisa kerja keras selama ini. Kulitnya sedikit gosong, mungkin saban hari dia harus mengantarkan barang dagangan di siang bolong. Namanya Muryanto. Saat itu dia masih kuliah teknik di Jogja. Namun sesekali kembali ke Solo untuk berjualan. Upaya menambah uang saku.

Ahh, kalau saja aku punya mesin waktu, aku ingin menunjukkan pada kalian, betapa muka mereka memerah saat pertama kali bertemu. Di sebuah lorong sempit penuh pedagang batik di Pasar Klewer, terhimpit oleh para pembeli dan pedagang lainnya, dua muda-mudi itu bertemu. Sama sekali jauh dari romantisme film-film kala itu. Mereka tidak bertemu di perpustakaan sambil menjatuhkan buku, lalu tak senagja memungut buku itu bersamaan. Tidak. Mereka bertemu di tengah hiruk pikuk aktivitas Pasar Klewer di sela-sela suara ribut para penjaja batik. Tanpa make-up, bahkan terbumbui bulir keringat di sekujur muka mereka. Menambah merah wajah muda-mudi itu. Bagiku, justru itu lebih romantis dibanding memungut buku di perpustakaan.  

Itu adalah awal mula dari perjalanan manis mereka. Manisnya hidup mereka jalani hingga kini.

Dua muda mudi itu sesungguhnya adalah kedua orangtuaku. Mungkin sudah tertebak dari awal. Kisah itu terjadi hampir 30 tahun yang lalu.Tulisan kali ini tercetus begitu saja saat aku menyadari bahwa hari ini adalah Hari Ibu. Ditambah sore kemarin, ada SMS masuk dari Ibu, “Dik, lagi di mana?” Kalau sudah begitu, aku merasa mungkin beliau sedang kangen. Hehe. Jadi ya, tak ada salahnya aku menuliskan tentang beliau kali ini.

Kisah di atas adalah secuil kisah yang aku dengar dari ibuku, dengan intro yang aku bumbui sendiri tentunya. Haha. Tapi pada intinya, dari sosok ibuku aku melihat satu sosok wanita yang tegar. Beliau rela keluar kuliah demi membantu kakek-nenek kala itu berjualan di pasar. Hal yang menurutku agak nekat untuk ukuran zaman itu, mengingat bangku kuliah masih tergolong keramat. Aku sedikit banyak belajar tentang berdagang dari beliau. Sekaligus belajar tentang mental baja yang harus dimiliki seorang pedagang. Meskipun saat ini Ibu memintaku untuk serius kuliah dan meneruskan bekerja di bidang yang aku pelajari selama ini. Bukan jadi pedagang.

Dari diri beliau pula lah aku belajar tentang arti “memberi”. Ibuku adalah sosok yang aku bilang, baiiiikk sekali. Beliau sering sekali membeli makanan kecil di pasar. Apapun itu. Walaupun sampai membusuk di rumah saking tidak ada yang mau makan. Bapak tentu kadang marah karena hal ini. Ibu sering beli-beli makanan. Namun aku baru tahu alasan di balik seringnya ibu beli makanan. Alasannya adalah, demi melariskan para pedagang kecil. Entah itu nenek-nenek penjual telor asin, simbok-simbok penjaja pisang raja, siapapun. Terlebih yang tampak sepi pembeli. Karena kasihan mungkin, bisa jadi. Menurut Ibu, dengan begitu kita sudah turut membantu menghidupkan roda ekonomi mereka. Dan konsep seperti ini adalah “memberi secara tidak langsung”. Jadi tidak semata kita memberi uang, tapi justru memberi suntikan penggerak roda ekonomi mereka. Aih, dari Ibu pulalah mungkin sifat suka jajan itu turun kepadaku. Namun sayangnya motif yang aku punya masih murni jajan. Hehehe.

Itu lah secuil kisah tentang Ibu. Mungkin segelintir teman (dari SD sampai kuliah) ada yang sudah pernah bertemu Ibuku secara langsung. Hehe. Tulisan ini sekali lagi murni pikiran spontan untuk menyambut Hari Ibu. Masing-masing ibu kita adalah wanita terhebat. Pahlawan bagi diri kita, bagi hati kita.

Ada satu pepatah lama yang selalu kuingat sampai hari ini, dan mungkin selamanya;

“satu tangkai bunga mawar untuk ibu hari ini, seribu kali lebih baik dibanding ribuan taburan mawar di atas kuburnya kelak”

Selamat Hari Ibu, Ibu-Ibu terbaik dunia!

Siang. Senja. Malam.

Ada yang ingin disampaikan oleh senja pada kita. Bukan tentang terang yang akan segera habis, atau hangat yang segera kaku, beku. Tapi dia membisiki kita bahwa sebuah awal baru saja akan bermula. Tentang keindahan lain yang akan datang. Pesona lain yang segera menggantikan. Senja, bagaimanapun kata orang, adalah lebih dari sekedar derak warna jingga di kaki langit barat. Jingga itu kelak berubah menjadi kelabu, lalu hitam sepenuhnya. Oh, bukan hitam yang menyeramkan. Ada bintang, jutaan adanya. Lalu bulan. Belum lagi kalau purnama. Aih, indah bukan?

Kata “malam” seakan tersisihkan dari definisi “hari”. Kita tahu bahwa satu hari ada 24 jam, dari senja sampai senja lagi. Tapi ketika orang ada hajatan di kampung saya, mereka selalu bilang, “Acaranya tujuh hari tujuh malam, dangdutan plus wayangan.” Hari dan malam terpisahkan. Bukannya malam itu termasuk dalam definisi hari?

Ah, ngomong apa sih saya ini? Sudahlah lupakan bahasan “hari-malam ini”. Entah kenapa tiba-tiba saya ingin menulis dengan prolog yang aneh begitu. Padahal tujuan awalnya saya hanya ingin bilang, Bahwa hidup tak beda jauh dengan majas perumpaan “hari-malam” itu. Ada episode berupa terang atau gelap. Walaupun sebenarnya gelap adalah bentuk keindahan yang kadang kita tak sadari. Seperti malam yang pasti menggantikan siang, tak dapat dicegah, pun begitu kejadian dalam hidup ini. Hal-hal, kejadian-kejadian, kadang tak dapat kita cegah. Frame-nya berjalan cepat, di luar kendali kita. Makhluk tak berdaya macam kita dibuatnya makin tak berdaya. Di masa-masa semacam ini, kala kita hanya bisa bertindak sebagai penonton kehidupan, hanya satu yang bisa kita lakukan. Berserah. Berserah pada Sang Sutradara siang dan malam. Berharap pada-Nya untuk ditunjukkan bintang di kala malam, dan awan berarak di kala siang.

Tak lebih beruntung kita di banding semut merayap di dahan meranti. Semuanya telah diatur. Bahkan ketika semut-semut itu mati terinjak kaki angkuh kita, itu telah diatur. Percayalah, bahwa Dia adalah Sutradara terbaik. Kita hanyalah peraga adegan dalam skenario indah-Nya.

PS: untuk kawan-kawanku di sana, semangatlah.🙂